JALAN KAKI? BUKAN PENGHALANGKU UNTUK MENCARI REJEKI
PACITAN. Seorang wanita tua penjual sayur sayuran yang tak lelah mencari rejeki demi kebutuhan sehari hari hari, dan harus mencukupi kebutuhan anak anaknya yang sedang berjuang mencapai cita cita indahnya.
Berjualan yang dilakukan demi menyambung hidupnya ini tak pernah lelah, ia harus berjualan keliling desa per desa dengan menggunakan kaki renta nya yang mulai menua, dan kadang pula di temani sang suami, Tetapi lebih seringnya ia berjualan sendiri karena,”biar bapak saja yang dirumah ngurusi hewan peliharaan” ujar, wanti.
Mereka yang tak memakai sepeda ataupun alat transportasi lain yang membantu penjualan mereka, hanya dengan jalan kaki ia menggendong renjing/keranjang bamboo, dan sang suami pula yang memikul keranjang yang digunakan tempat sayur-sayuran dan lain-lain yang akan dijualnya. dan disambi pula dengan membawa tas ditangannya yang berisikan dagangan pula. Tidak jauh beda dengan yang dialami bu giyah penjual pecel, yang setiap 2 hari pahing dan kliwon ia juga berjualan berkeliling dengan tanpa menggunakan alat transportasi, meskipun ia memiliki tempat pangkalan ia memilih bejualan berkeliling yang anggapnya lebih cepet terjual dari pada mangkal di satu tempat saja.
Mereka terus berjualan dengan menyelusuri jalan jalan sempit yang di setiap ada rumah harus di kunjungi dengan tujuan ada orang yang membeli dagangan yang mereka bawa. kadang kala juga mereka harus melanjutkan perjalanan lagi karena tidak ada yang membeli. Anggapnya 2 hari itu sebenarnya tidak banyak mencukupi kebutuhannya tetapi ia harus istirahat agar kesehatan terjaga karena siapa lagi yang harus mencari uang kalau mereka sakit.
Melihat anak anaknya yang semangat dalam berjuang menggapai impian yang indah ia juga tak pantang menyerah, sedikit demi sedikit dan ia imbangi rasa sabar ia harus mengumpulkan uang untuk mencukupi kehidupan sehari harinya dan mencukupi kebutuhan 2 anaknya yang bersekolah tersebut.
“Dengan ini aku berjualan semoga anak anakku kelak tidak seperti saya pada masa tuanya”. Kata, wanti.