Bermodal
tekat mengantarkan Muhammad Ulin Nuha menjadi pengusaha jamur tiram. Usaha
jamur tiram yang dirintis oleh Muhammad Ulin Nuha berhasil mengantarkannya
menjadi seorang pengusaha muda dengan
penghasilan mencapai puluh juta rupiah. Ulin Nuha seorang pengusaha jamur tiram
di desa Mlarak Ponorogo. Tidak hanya itu Ulin Nuha berhasil mengepakkan sayap
bisnisnya dengan membuka ruko olahan jamur
di jalan baru Ponorogo.
Tidak mudah perjalanan yang dilalui
untuk mencapai tahap ini. Pengusaha yang akrab disapa Ulin tersebut kerap
mendapatkan rintangan yang membawa usahanya menuju ambang kebangkrutan. Ulin Nuha
menganggap setiap kegagalan merupakan hal yang lumrah terjadi pada setiap
orang. Namun terdapat perbedaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha dengan
orang biasa.
Kebanyakan
orang akan berhenti dan menyerah apabila dihadapkan dengan kegagalan. Lain lagi
dengan orang yang berjiwa pengusaha, seberapa banyak rintangan dan kegagalan
yang menghadang sebanyak itu pula dia akan bangkit dan menghadapiya. Berani
untuk bangkit dan memulainya lagi merupakan kunci bertahannya usaha yang telah
dimulai.
Rekam jejak usaha jamur tiram Ulin
Nuha bermula dari tawaran kerjasama rekannya pada tahun 2014. Adannya kerjasama
membuat laki-laki berhidung mancung tersebut yang awalnya pengangguran kini
mendapatkan pekerjaan. Ulin Nuha cukup melakukan roses perawatan bibit jamur
yang diberikan oleh pemodal. Kemudian setelah panen Ulin Nuha tinggal menjualnya
ke pasar yang berada di Ponorogo. Kerjasama tersebut dilakukan dengan sistem
bagi hasil sebesar 70 persen untuk pemodal dan 30 persen untuk penjual. Tanpa
modal Ulin Nuha mendapatkan keuntungan sebesar 30 persen dari kerjasama
tersebut.
Laki-laki berkulit sawo matang itu
mnganggap kerjasama ini sebagai proses belajar dengan tujuan ia dapat
melakukannya sendiri dikemudiaan hari. Kerjasama ini mendatangkan banyak
pengalaman yang diperoleh Ulin Nuha. Mulai dari cara pembibitan, pembuatan beglog
jamur, perawatan, hingga pendistribusian jamur. Kerjasama tersebut hanya
berlangsung selama 2 kali saja.
Setelah Ulin Nuha mengetahui perhitungan
dari pembudidayaan jamur ia memutuskan untuk mengakhiri kerjasama. Lalu memulai
untuk membuka usaha budidaya jamur tiram sendiri. Dari pembudidayaan jamur
tiram terdapat beberapa produk yang dapat ditukarkan oleh Ulin Nuha menjadi
pundi-pundi rupiah. Produk tersebut meliputi bibit jamur, beglog jamur, jamur tiram,
hingga olahan kripik dan nugget jamur.
Setelah berjalan kurang lebih selama 6 tahun Ulin Nuha berhasil membuka lapak
jualan kripik jamur dan memperkerjakan pegawai untuk mengelola jualannya.
Kini
fokus laki-laki berusia 25 tahun itu pada penjualan beglog jamur. Usaha kripik
jamurnya telah dikelola oleh karyawan dibawah
pengawasannya. Sedangkan nugget jamur dipasarkan ke swalayan yang ada di
Ponoro. Pembudidayaan jamur tiram diberinama UD. Berkah Putra Ragil sentra
budidaya dan pemasok jamur tiram. UD. Berkah Putra Ragil menjadi satu-satunya
tempat pembudidayaan jamur tiram di Desa
Mlarak.
Untuk
sekali produksi Ulin Nuha dapat membuat 15.000 beglog jamur. Bahan pokok yang
diperlukan pun dapat dijumpai dengan mudah. Bahan pembuatannya meliputi 10 kg
bekas gergaji, 10 kg dedak atau makanan sapi, dan 1 kg kapur gamping. Bahan
pokok tersebut dicampur dengan air kemudian dimasukkan ke dalam mesin pengaduk.
Diamkan adonan selama 24 jam dalam kelembapan suhu 70 – 80 derajat celcius.
Setelah didiamkan masukkan adonan ke dalam plastik kemudian
masukkan ke mesin pengepresan.
Masukkan
hasil pengepresan ke dalam oven selama 8 jam dengan suhu 100 derajat celcius.
Setelah itu, masukkan bibit jamur ke beglog kemudian lakukan pegepresan atau
loging . Perawatan beglog jamur dilakukan selama 40 hari dengan menyemprotkan
air bersih satu kali setiap hari. Perawatan tidak hanya berhenti disitu, Ulin
Nuha juga memberikan vitamin agar beglog jamur dapat tumbuh sehat. Beglog jamur
yang sehat akan dipenuhi dengan akar jamur berwarna putih. Sedangkan beglog
jamur yang kurang sehat tidak akan ditumbuhi akar jamur atau akar jamur dapat
tumbuh namun tidak dapat memenuhi ruang
yang terdapat di beglog.
Setelah
melewati hari ke 40 beglog jamur siap di pasarkan. Beglog jamur di
distribusikan ke petani jamur yang berada di wilayah Ponorogo. Relasi yang
dibangun Ulin Nuha semakin banyak hingga Ulin mendapatkan pesanan beglog jamur
dari luar kota. Seperti Pacitan, Madiun, Ngawi, Trenggalek, dan Kediri turut
mendapat pasokan beglog jamur dari Ulin Nuha.
Usaha
budidaya jamur membuat perekonomian Ulin berserta keluarga mengalami kemajuan.
Setiap kali panen Ulin berhasil mengantongi keuntungan puluhan juta rupiah.
Meski banyak uang pengusaha jamur tiram tersebut tetap menjalani kehidupannya
secara sederhana. Tidak ada rumah dan mobil mewah yang ada hanyalah sepetak
rumah, yang ia jadikan tempat usaha dan mendatangkan keuntungan.
Berkat kegigihannya dalam bekerja,
Ulin berhasil membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga disekitar rumahnya.
Ulin memberikan modal berupa beglok jamur bagi warga yang mau membuka usaha
jamur. Laki-laki dengan perawakan tidak terlalu tinggi tersebut tidak meminta
keuntungan dari warga yang mendapatkan bantuan modalnya. Hal itu dilakukan Ulin
agar warga sekitar mendapatkan sedikit
kesejahteraan dalam perekonomianya.
Ulin Nuha meminta kepada generasi
muda untuk tidak merasa malu dan minder terhadap pekerjaan yang digelutinya.
Sebab sekecil apapun pekerjaanya jika terus ditekuni akan mengatarkan diri
masing-masing menuju gerbang kesuksesan. “Meskipun
saya hanya seorang pengusaha jamur, setidaknya saya telah menjadi bos dalam
usaha saya.” Ucap Ulin Nuha di akhir wawancara.
Penulis : Dwi Aziz Azizah Agustina

