Oleh : Siti Umi Nafi'ah
Mentari pagi ini bersinar cukup terik. Masyarakat mulai berbondong-bondong menyusuri jalan memulai aktivitasnya. Kawasan perempatan Balong, Kabupaten Ponorogo nampak kendaraan berlalu lalang ria. Dari arah selatan aku melajukan montor menuju Pos Polisi disebelah timur perempatan Balong. Terlihat puluhan Mahasiswa yang tak lain adalah temanku sedang berkumpul menunggu pasukan lengkap. Ku sapa mereka dengan sesekali bergurau “ Belum mulai to, Aku sarapan ae buru-buru. Ternyata sek nunggu yang lain.” Lalu temanku menjawab dengan melotot. “ weh awakmu sarapan ? Lha aku malah ora” (Loh kamu sarapan ? Aku aja enggak). Aku yang mendengarnya cuma cengengesan.
Hari Minggu tanggal 28 Juni 2020, Mahasiswa KPM-DR (Kuliah Pengabdian Masyarakat-Dari Rumah) Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo akan beraksi terjun lapangan. Jika biasanya kami melakukan kunjungan industri di tempat usaha atau membersihkan masjid, maka kali ini berbeda. Dari 26 mahasiswa dibagi menjadi empat kelompok yang akan beraksi membagikan masker gratis serta memberi santunan kepada warga yang kurang mampu. Rencananya aksi akan dimulai di setiap sisi jalan lampu lalu lintas perempatan Balong. Akan tetapi, tidak ada angin tidak ada hujan ternyata listrik mati, otomatis lampu lalu lintas juga ikut mati. Melalui perdebatan kecil kami menyusun rencana baru. Masker dibagikan di Pasar Balong dengan berbagai titik yang berbeda.
Pukul 08.45 pasar Balong terlihat mulai sepi. Namun, masih ada beberapa pedagang yang tetap berjualan atau membereskan dagangannya untuk pulang. Keadaan yang tidak terlalu ramai justru membuat kegiatan bagi-bagi masker ini berjalan lancar. Kami berbagi masker kepada para pedagang, pembeli, warga tua maupun muda. Mereka tampak antusias menyambut kedatangan kami. Aku dan temanku menghampiri seorang nenek penjual pisang yang sedang tidak memakai masker. ”Nikii mbah masker kagem jenengan" (ini mbah masker untuk mu). Kemudian nenek tersebut menjawab “pinten mbak ?” (berapa mbak ?). Kami yang mendengarnya sontak menjelaskan “ mboten tumbas mbah niki gratis, kagem jenengan. Dipakai nggeh”( tidak beli mbah ini gratis, untukmu. Dipakai nggeh ). Kemudian nenek tersebut tersenyum sembari mengucap terimakasih. Desa Balong yang masih berstatus zona merah Covid-19 menggerakkan kami untuk berbagi dan mengingatkan untuk senantiasa memakai masker.
Matahari semakin meringsuk ke atas. Selesai membagi masker kami bergegas kembali ke markas. Aksi selanjutnya ialah bakti sosial atau pemberian santunan kepada warga yang kurang mampu. Sebanyak delapan titik di delepan desa yang sebelumnya telah kami survei akan mendapatkan bantuan ini. Desa tersebut antara lain, Karangmojo, Karangan, Tatung, Guyangan, Balong, Dadapan, Jalen dan Ngampel. Delapan titik tersebut kami bagi per-kelompok, satu kelompok beraksi di dua tempat berbeda. Bantuan ini berasal dari hasil patungan teman-teman yang kemudian dibelikan sembako. Tidak banyak yang kami berikan, namun insyaallah bermanfaat bagi warga yang membutuhkan. Bukankah berbagi adalah wujud dari rasa syukur ?
Kelompok kami mendapat tempat di desa Karangmojo dan Balong. Sebelum menuju titik pemberian sembako kami mampir ke rumah Pandu Prabowo Mukti Ketua pelaksana KPM-DR Kecamatan Balong yang ada di desa Karangmojo. Aku berbincang dengan Pandu mengenai kegiatan kali ini. Menurutnya aksi bagi-bagi masker ini bertujuan untuk membentuk rasa kepedulian mahasiswa kepada masyarakat disituasi pandemi Covid-19. “ beberapa golongan masyarakat itu mungkin tergolong kurang mampu atau secara pendidikan kurang nah kita mahasiswa turun memberikan masker itu dan sedikit memberikan edukasi”. Ungkapnya.
Setelah beristirahat, kami melancarkan aksi menuju rumah Mbah Wasini. Ia tinggal bersama suaminya yang mengalami gangguan dalam berbicara. Rumahnya minimalis nan sederhana. Namun, sambutan hangat dan senyum dibibir mereka membuat rumah ini nyaman disinggahi. Kami bercengkrama sebentar dengan mereka tentang maksud tujuan kami kesini. Mbah Wasini berkata ia sangat senang mendapat bantuan ini. “ seneng mbak, terharu alhamdulillah rezeki. Mugi-mugi kedepannya mas dan mbak diparingi kesuksesan lan tujuan sedoyone kelaksanaaken. Matursuwun sanget nggeh (seneng mbak, terharu. Semoga kedepannya mas dan mbak diberi kesuksesan dan tujuan kegiatan semuanya lancar. Terimakasih banyak ya) .Ucapnya sumringah.
Hari semakin siang, kami harus melanjutkan perjalanan ke desa Balong. Terik matahari dan polusi kendaraan tak membakar semangat kami. Pandu kembali bercerita bahwa banyak masyarakat yang kurang mampu apalagi di bidang ekonomi. “ Banyak masyarakat yang kurang mampu ekonominya apalagi di situasi pandemi ini, nah di momen ini kita memberi santunan berupa bahan pokok yang pastinya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari”. ungkapnya semangat.
Covid-19 yang belum kunjung reda mengalihkan aktivitas di seluruh penjuru dunia. KPM kali ini mungkin berbeda dengan KPM tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, esensi pengabdian masyarakat tidak luntur begitu saja bukan ?. Ini sedikit cerita KPM-DR di desa ku. Kalau kamu bagaimana ?

