EJAPADMA: Sosial
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

29 Juni 2020

Berbagi Bersama Di Tengah Dinamika Korona



Oleh : Siti Umi Nafi'ah

Mentari pagi ini bersinar cukup terik. Masyarakat mulai berbondong-bondong menyusuri jalan memulai aktivitasnya. Kawasan perempatan Balong, Kabupaten Ponorogo nampak kendaraan berlalu lalang ria. Dari arah selatan aku melajukan montor menuju Pos Polisi disebelah timur perempatan Balong. Terlihat puluhan Mahasiswa yang tak lain adalah temanku sedang berkumpul menunggu pasukan lengkap. Ku sapa mereka dengan sesekali bergurau “ Belum mulai to, Aku sarapan ae buru-buru. Ternyata sek nunggu yang lain.” Lalu temanku menjawab dengan melotot. “ weh awakmu sarapan ? Lha aku malah ora” (Loh kamu sarapan ? Aku aja enggak). Aku yang mendengarnya cuma cengengesan. 

Hari Minggu tanggal 28 Juni 2020, Mahasiswa KPM-DR (Kuliah Pengabdian Masyarakat-Dari Rumah) Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo akan beraksi terjun lapangan. Jika biasanya kami melakukan kunjungan industri di tempat usaha atau membersihkan masjid, maka kali ini berbeda. Dari 26 mahasiswa dibagi menjadi empat kelompok yang akan beraksi membagikan masker gratis serta memberi santunan kepada warga yang kurang mampu. Rencananya aksi akan dimulai di setiap sisi jalan lampu lalu lintas perempatan Balong. Akan tetapi, tidak ada angin tidak ada hujan ternyata listrik mati, otomatis lampu lalu lintas juga ikut mati. Melalui perdebatan kecil kami menyusun rencana baru. Masker dibagikan di Pasar Balong dengan berbagai titik yang berbeda.

Pukul 08.45 pasar Balong terlihat mulai sepi. Namun, masih ada beberapa pedagang yang tetap berjualan atau membereskan dagangannya untuk pulang. Keadaan yang tidak terlalu ramai justru membuat kegiatan bagi-bagi masker ini berjalan lancar. Kami berbagi masker kepada para pedagang, pembeli, warga tua maupun muda. Mereka tampak antusias menyambut kedatangan kami. Aku dan temanku menghampiri seorang nenek penjual pisang yang sedang tidak memakai masker. ”Nikii mbah masker kagem jenengan" (ini mbah masker untuk mu). Kemudian nenek tersebut menjawab “pinten mbak ?” (berapa mbak ?). Kami yang mendengarnya sontak menjelaskan “ mboten tumbas mbah niki gratis, kagem jenengan. Dipakai nggeh”( tidak beli mbah ini gratis, untukmu. Dipakai nggeh ). Kemudian nenek tersebut tersenyum sembari mengucap terimakasih. Desa Balong yang masih berstatus zona merah Covid-19 menggerakkan kami untuk berbagi dan mengingatkan untuk senantiasa memakai masker. 

Matahari semakin meringsuk ke atas. Selesai membagi masker kami bergegas kembali ke markas. Aksi selanjutnya ialah bakti sosial atau pemberian santunan kepada warga yang kurang mampu. Sebanyak delapan titik di delepan desa yang sebelumnya telah kami survei akan mendapatkan bantuan ini. Desa tersebut antara lain, Karangmojo, Karangan, Tatung, Guyangan, Balong, Dadapan, Jalen dan Ngampel. Delapan titik tersebut kami bagi per-kelompok, satu kelompok beraksi di dua tempat berbeda. Bantuan ini berasal dari hasil patungan teman-teman yang kemudian dibelikan sembako. Tidak banyak yang kami berikan, namun insyaallah bermanfaat bagi warga yang membutuhkan. Bukankah berbagi adalah wujud dari rasa syukur ?

Kelompok kami mendapat tempat di desa  Karangmojo dan Balong. Sebelum menuju titik pemberian sembako kami mampir ke rumah Pandu Prabowo Mukti Ketua pelaksana KPM-DR Kecamatan Balong yang ada di desa Karangmojo. Aku berbincang dengan Pandu mengenai kegiatan kali ini. Menurutnya aksi bagi-bagi masker ini bertujuan untuk membentuk rasa kepedulian mahasiswa kepada masyarakat  disituasi pandemi Covid-19. “ beberapa golongan masyarakat itu mungkin tergolong kurang mampu atau secara pendidikan kurang nah kita mahasiswa turun memberikan masker itu dan sedikit memberikan edukasi”. Ungkapnya.

Setelah beristirahat, kami melancarkan aksi menuju rumah Mbah Wasini. Ia tinggal bersama suaminya yang mengalami gangguan dalam berbicara. Rumahnya  minimalis nan  sederhana. Namun, sambutan hangat dan senyum dibibir mereka membuat rumah ini nyaman disinggahi. Kami bercengkrama sebentar dengan mereka tentang maksud tujuan kami kesini.  Mbah Wasini berkata ia sangat senang mendapat bantuan ini. “ seneng mbak, terharu alhamdulillah rezeki. Mugi-mugi kedepannya mas dan mbak diparingi kesuksesan lan tujuan sedoyone kelaksanaaken. Matursuwun sanget nggeh (seneng mbak, terharu. Semoga kedepannya mas dan mbak diberi kesuksesan dan tujuan kegiatan semuanya lancar. Terimakasih banyak ya) .Ucapnya sumringah.


Hari semakin siang, kami harus melanjutkan perjalanan ke desa Balong. Terik matahari dan polusi kendaraan tak membakar semangat kami. Pandu kembali bercerita bahwa banyak masyarakat yang kurang mampu apalagi di bidang ekonomi. “ Banyak masyarakat yang kurang mampu ekonominya apalagi di situasi pandemi ini, nah di momen ini kita memberi santunan berupa bahan pokok yang pastinya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari”. ungkapnya semangat.

   Covid-19 yang belum kunjung reda mengalihkan aktivitas di seluruh penjuru dunia. KPM kali ini mungkin berbeda dengan KPM tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, esensi pengabdian masyarakat tidak luntur begitu saja bukan ?. Ini sedikit cerita KPM-DR di desa ku. Kalau kamu bagaimana ?

28 Juni 2020

Jum’at Berkah, Semangat Berbagi Ditengah Pendemi









Jum’at (26/06/2020), ditengah pendemi covid-19 warga Rt. 01 Desa Majasem, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi sempatkan berbagi melalui kegiatan Jum’at Berkah. Kegiatan yang baru dimulai pada tanggal 12 Juni 2020 ini dipelopori oleh Hery Gunawan selaku ketua Rt. Jum’at Berkah sebagai bentuk sedekah yang dilakukan warga dengan cara membagikan nasi bungkus dan takjil ke masjid yang berada di Dusun Pencol.
Meskipun sedekah dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Namun terdapat keutamaan serta akan mendatangkan pahala yang lebih besar ketika dilaksanakan pada hari-hari utama. Diantaranya adalah hari Jum’at, hal tersebut yang menjadi latar belakang dari kegiatan ini. Serta adanya keyakinan yang dipegang teguh oleh Hary Gunawan bahwa harta yang dipergunakan untuk bersedekah tidak akan habis melainkan akan membawa kebaikan antar sesama.
Kegiatan ini mendapatkan antusias yang besar dari jama’ah sholat Jum’at. Terbukti dengan habisnya 60 nasi bungkus pada Jum’at pertama dan habisnya 100 takjil pada hari ke dua. Pada awalnya dana dari kegiatan ini diambil dari beban pembayaran listrik dengan nominal 1.000 rupiah setiap bulan. Sampai akhirnya Jum’at Berkah mendapatkan perhatian dari para donatur. Hingga kini dana yang terkumpul dari donatur mencapai  600.000 ribu.
Kegiatan rutin ini bertujuan sebagai pemicu semangat anak-anak agar mau melaksanakan sholat Jum’at di masjid. Serta sebagai proses pembelajaran untuk senantiasa menjalani hidup dengan ikhlas. Juga untuk mengajak warga setempat agar terbiasa bersedekah. Hal tersebut sesuai dengan harapan dari Hary Gunawan “Semoga kedepannya masyarakat terbiasa bersedekah, tanpa saya koordiner kegiatan semacam ini dapat berjalan sendiri.” Kata ketua Rt. tersebut.

Penulis : Dwi Aziz Azizah Agustina

27 Juni 2020

Dhani Adhi Wijaya : Dari Penjual Pulsa Hingga Pengusaha Tas Muda




Oleh : Siti Umi Nafi’ah

 Awalnya hanya 6 pekerja. Kini ia memiliki 32 pekerja yang tersebar di tiga desa.

        Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita kehilangan semangat. Begitulah presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln berkata. Pepatah tersebut seolah mengingatkan kita untuk bangkit dari kegagalan hidup yang terus mendera. Seperti yang dialami oleh Dhani Adhi Wijaya, pengusaha muda asal dusun Gempol, desa Ngampel, Kecamatan Balong, Ponorogo. Setelah bertahun-tahun mengalami kegagalan, kini ia sukses mendirikan CV. Tas Rakyat Indonesia didesanya.

     Perjalanan karirnya dimulai saat berusia 14 tahun. Tahun 2008 saat masih kelas dua di SMPN 1 Jetis ia memulai usaha sebagai penjual pulsa operator. Kala itu penjual pulsa antar operator di Ponorogo masih minim sehingga bisnis pulsanya berkembang pesat, juga dari segi keuntungan yang cukup bagus. Usahanya berjalan cukup lancar sampai suatu hari ia mulai tidak mampu menata keuangannya. Dhani hanyalah seorang remaja labil yang sering bermain dan nongkrong bersama teman-temannya. Tanpa disadari, uang hasil ia berbisnis pulsa lama-kelamaan habis akibat perilaku konsumtifnya. Sejak saat itu ia bangkrut dan berhenti berbisnis pulsa.

     Tahun 2011 Dhani  mencoba hal baru. Setelah berbisnis pulsa gagal, ia nekad bekerja. Sembari sekolah di  SMA Muhammadiyah Ponorogo ia mulai bekerja di travel kakaknya sebagai operator travel. Tidak hanya sampai situ, ia mulai mencari celah untuk belajar sistem travel melalui pekerjaannya.

    Jiwa berwirausaha Dhani mulai bangkit kembali ketika mengikuti Multilevel Marketing. Dhani remaja tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyerap ilmu. Dalam mengikuti kegiatan tersebut ia belajar banyak tentang cara closing, mendekatkan diri dengan orang banyak hingga public speaking. Ia sudah berhasil menjadi salah satu peserta terbaik dengan tingkat prestasi yang cukup tinggi. Setelah berjalan sekitar tiga bulan ia keluar dari Multilevel karena ada suatu masalah yang tak dapat dihindari. Tidak berpuas diri disitu, Dhani juga sering mengikuti seminar entrepreneur yang kembali membangkitkan jiwa berwirausahanya. 

     Tahun 2012 Dhani kembali memulai usaha baru di bidang makanan. Ia mengaku terinspirasi dari Film Thailand The Billionare. Usahanya diberi lebel “Cam – Cam “, makanan sejenis cimol yang dicampur daging sapi dan ayam. Dikemas modern dengan berbagai rasa salah satunya balado. Setiap hari “ Cam - cam” ia titipkan ke Koperasi siswa yang ada disekolahnya. Masih menggunakan seragam sekolah ia kembali menjajakan dagangannya ke toko-toko kecil sampai ke rental PS hingga Warnet. Tidak mudah menjadi siswa sekaligus berjualan disekolahnya. Tidak sedikit orang yang berpikiran buruk tentangnya sampai kata-kata tidak pantas terdengar sampai ke telinganya. “Tidak mudah bagi saya mbak, berjualan itu banyak orang-orang yang mencemohnya dan tidak percaya akan mimpi saya”. Setelah berjalan beberapa bulan usaha tersebut kembali bangkrut. Lagi-lagi, ia tidak mampu menata manajemen keungannya dengan baik. 

     Ditahun yang sama ia mengikuti bisnis kaos bersama temannya. Di Multilevel ia melihat peluang besar di bidang produksi kaos. Dhani rela menjual Handhponenya demi mengikut bisnis tersebut. Akan tetapi, nasib buruk menimpanya, “ saya rela jual Hp Blackberry seharga 1,5 juta untuk tanam modal, ternyata malah dibawa kabur”. Melalui berbagai kegagalan membuatnya sadar bahwa ia harus lebih hati-hati dan bijak menata keuangan.“ semakin lama melalui berbagai pengalaman saya sadar, mana yang harus diperbaiki untuk mengelola keuangan dan manajemen yang baik”. 

     Lulus SMA Dhani kembali bekerja, kali ini ia menjajal kemampuannya dibidang driver travel. Selama 1,5 tahun pekerjaan tersebut ia tekuni penuh semangat. Tahun 2014 bungsu dari dua bersaudara tersebut masuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Kala itu orang tuanya menentang karena anak keduanya ini ingin masuk jurusan Manajemen. Bagi orang tuanya jurusan pendidikan dan kesehatanlah yang berpeluang besar mendapatkan pekerjaan. Namun Dhani tetap gigih dengan pendiriannya. Ia meyakinkan orang tuanya bahwa ia mantap dengan jurusan tersebut dan berjanji akan bersungguh-sungguh. 

    Janji tersebut tidak hanya sebatas ucapan. Semester tiga Dhani mulai  mendirikan usaha tas rakyat atau tas anyaman berlebel LIIZHA. Awalnya ia mengembangkan ide tas rakyat melalui tahap ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Dhani melakukan riset pada suatu mall, ia mengamati sebuah kantong kresek yang biasanya digunakan untuk mewadahi hasil belanjaan. “ kresek di mall itu saya amati, ukurannya berapa dimensinya berapa. Nanti bisa saya terapkan untuk ukuran tas saya”. Sedangkan tas LIIZHA ide yang dikembangkan lebih terkonsep lagi. Dari riset pasar, riset produk hingga riset marketing. Jadi, ilmu yang didapatkan selama kuliah dapat diterapkan dalam hal ini. Dari segi motif pun ia juga sering observasi ke pusat perbelanjaan untuk menemukan motif yang cocok. Setelah menimbang dan mengamati barulah ia memutuskan bahwa motif sederhana dan elegan adalah yang sering digunakan kaum perempuan.
      
foto: @tas.rakyat

     Saat berbincang santai dirumahnya Dhani bercerita salah satu faktor utama mendirikan usaha ini membuatnya tergelitik. Sambil mengingat kembali dan sesekali tertawa ia mengisahkan bahwa patah hati membuatnya bangkit dari keterpurukan. “ Lucu ya mbak, dulu saya suka sama salah satu perempuan terus patah hati. Nah mulai saat itu saya bangkit tidak mau berlarut dalam kesedihan. Saya harus membuktikan saya bisa sukses tanpa dia.” Ucapnya mengingat kejadian enam tahun silam. 

    Selain faktor patah hati, dari segi ekonomi keluarganya masih terbilang sederhana. Ibunya berjualan bahan pangan di pasar sedangkan bapaknya seorang petani. Karena ibunya sempat sakit yang mengakibatkan beliau harus berhenti berjualan, di sisi lain hasil dari bertani bapaknya tidak menentu. Ia memutar otak bagaimana bisa menghidupi keluarganya juga kehidupannya sebagai seorang mahasiswa.

     Hasil dari ia bekerja menjadi driver travel ia kumpulkan untuk membeli iphone. Kemudian iphone tersebut rela ia jual untuk modal mendirikan usaha tas ini. Awalnya ia memilih usaha tas anyaman karena menurutnya memiliki potensi besar kedepannya masyarakat akan beralih dari kantong plastik ke tas serbaguna. Jadi ia memantapkan diri untuk mendirikan usaha tas anyaman di desanya.

     Tahun 2015 ia memulai usaha dengan bahan yang masih biasa sehingga hasilnya kurang maksimal. Tahun 2016 ia sudah dapat bahan penyuplai dari Surabaya yang kualitasnya bagus. Mulai tahun tersebut usahanya berkembang pesat. Awalnya ia menjual sendiri secara sales ke berbagai kota. Banyak yang menolaknya sampai suatu hari di Pacitan ada orang yang mau membeli. Walau hanya 10 tas yang terjual ia merasa bangga dan termotivasi untuk membuat inovasi lebih menarik lagi.

   Setelah diambang kesuksesan ia mulai dihantam banyak pesanan. Disitu ia kelabakan karena ia sudah memiliki bahan yang bagus akan tetapi sumber daya manusia sebagai pengrajin sangat minim. Al-hasil ia tidak mampu menerima pesanan tersebut. Awalnya pengrajin hanya 6 orang akan tetapi sekarang sudah berkembang menjadi 32 orang. Pengrajin tersebut tesebar ke tiga desa yakni Muneng, Ngampel dan Jetis. Itupun menurutnya masih kurang jika pesanan semakin banyak.
Foto : @tas.rakyat

     Selain meningkatkan ekonomi usaha ini juga membantu pengurangan sampah plastik. Bahan yang digunakan ialah recyle dari plastik yang diolah menjadi tali strapping band untuk menganyam tas tersebut. Melalui taglinenya “ Diet kantong plastik” Dhani mengajak masyarakat untuk mengurangi sampah plastik yang semakin hari semakin menumpuk. Sampah plastik tentunya sangat merugikan selain sukar diuraikan juga dapat mencemari lingkungan.

    Produk tas anyaman ini terdiri dari dua jenis. Pertama tas rakyat yang ditargetkan untuk ibu-ibu yang tinggal di desa. Kedua, tas LIIZHA yang ditargetkan untuk ibu-ibu muda di daerah perkotaan.  Tas rakyat memiliki empat ukuran yang berbeda yakni : S, M, L, dan XL. Dijual secara grosir dengan harga Rp.11.000- Rp. 18.000.  Sedangkan tas Liizha dibandrol dengan harga Rp. 20.000 –Rp. 30.000 yang dijual secara negoisasi. Khusus tas LIIZHA Dhani menawarkan kualitas bahan yang lebih tebal, motif yang bervariasi hingga lebel dengan tagline “Diet Kanting Plastik” untuk selalu mencintai lingkungan. 

Di Usianya yang ke 26 tahun, pendistribusian tas rakyat miliknya mampu menembus pasar luar kota yakni Madiun, Blitar, Tulungagung hingga Nganjuk. Kabupaten Ponorogo dan empat kota tersebut sudah rutin menjadi langganan distributor. Seminggu sekali pihak agen mengambil secara grosir sebanyak 250 tas atau tergantung pemesanan. CV. Tas Rakyat Indonesia mampu memasok sekitar 1200- 1500 tas setiap bulannya. Selanjutnya Dhani memiliki rencana usaha tas anyaman ini akan ia distribusikan ke seluruh daerah atau kota di Jawa Timur.


    Media Sosial dan E-Commerce menjadi salah satu andalannya dalam taktik marketing. Dalam instagram @Liizhabags.id dan @tas.rakyat para pembeli dapat dengan mudah melihat detail tas anyaman ini tanpa perlu repot repot datang ke tempat produksi. Di Zaman yang semakin modern ini, Dhani terus mengalami rintangan yang tidak mudah. Menurutnya inovasi sangat penting dilakukan mengingat tanpa inovasi maka suatu produk akan sulit berkembang. Membuat inovasi tidak hanya di bidang produksi melainkan di bidang pemasaran juga. “ rintangannya itu kita harus konsisten dan membuat inovasi terus meneurus dibidang produksi, pemasaran dan sebagainya. Tanpa inovasi ya stok hanya disitu aja”.

Kunci keberhasilan bisnis dalam berwirausaha menurut Dhani adalah menguatkan niat, usaha terus menerus dan doa. Sarjana Manajemen tersebut berpesan kepada anak-anak muda yang sedang membangun usaha atau bercita-cita menjadi pengusaha untuk tidak takut gagal. Kegagalan membuatnya lebih kuat dan menjadikannya pengalaman terbaik. “Wirausaha wajib gagal. Kalau belum gagal maka belum merasakan susah. Jangan takut gagal dan harus gagal untuk menjadi yang lebih baik. “ Ucapnya dengan penuh semangat.



21 Juni 2020

“ Gerakan Masjid Bersih ” dari Mahasiswa untuk Masyarakat Kecamatan Balong



Oleh : Siti Umi Nafi’ah

  Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) IAIN Ponorogo tahun ini berbeda degan tahun-tahun sebelumnya. KPM tahun ini mengusung tema “Berbekal Spirit Moderasi dan Literasi Kami Siap Mengabdi Untuk Negeri di Tengah Pandemi”. Hal ini ditujukan karena KPM tahun ini dilaksanakan dari rumah sebagai bentuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Jika tahun sebelumnya KPM dilaksanakan secara kelompok dengan desa yang telah ditentukan maka dalam situasi seperti ini, KPM dilaksanakan secara individu. Namun tidak menutup kemungkinan dilakukan secara kelompok dengan mahasiswa satu desa dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Seperti yang dilakukan KPM-DR kecamatan Balong, 26 Mahasiswa angkatan 2017 IAIN Ponorogo yang tinggal di wilayah kecamatan Balong mengadakan sejumlah program kerja. Salah satu program kerja tersebut adalah “ Gerakan Masjid Bersih”. Kegiatan tersebut dilakukan mulai tanggal 12 Juni -  3 Juli 2020. Setiap seminggu sekali pada hari Jumat pagi. Mahasiswa tersebut dibagi menjadi empat kelompok dengan tujuan empat masjid atau mushola yang berbeda.

Empat masjid tersebut antara lain, Masjid Al- Huda Balong, Masjid Al-Irsyad Jalen, Mushola Bustanul Hidayah Bajang dan Masjid Ar-Rohman Purworejo. Setiap hari Jumat selama bulan Juni, setiap kelompok bergantian membersihkan masjid tersebut. Mulai dari menyapu lantai masjid, mengepel, membersihkan toilet dan sebagainya. KPM- DR Kecamatan Balong juga berkoordinasi dengan takmir atau pengurus masjid tersebut sebagai bentuk kepedulian dan menambah relasi antar masyarakat setempat.

Pandu Prabowo Mukti selaku ketua pelaksana KPM-DR kecamatan Balong, mengungkapkan tujuan diadakan kegiatan ini ialah membuka pandangan masyarakat terhadap mahasiswa  yang berkontribusi sebagai agen sosial dakwah. “ Gerakan bersih masjid adalah aktualisasi dalam merawat nilai-nilai pengabdian masyarakat dalam kerangka dakwah. Hal ini bertujuan untuk membuka pandangan masyarakat terhadap mahasiswa yang dirasa terkesan akademis dan eksklusif menjadi agen sosial khususnya pada lokus sosial dakwah “ kata Mahasiswa jurusan Hukum Ekonomi Syariah tersebut.

Melalui “ Gerakan Masjid bersih “ Pandu menambahkan, kegiatan ini dapat membentuk karakter mahasiswa yang humanis dan religus. Masyarakat pun dapat merasakan output yang positif. “Manfaaat nya membentuk karakter mahasiswa yang humanis dan religius, sedangkan masyarakat dapat terbantu dalam menjaga kebersihan dan terfasilitasi beberapa alat pembersih pada masjid atau mushola tersebut “. jelasnya

      Muhammad Nuril Anwar salah satu pengurus masjid Masjid Ar-Rohman desa Purworejo mengatakan “Gerakan Masjid Bersih” tersebut dapat melatih mahasiswa dalam perannya di masyarakat. “ Baik ya untuk Mahasiswa, apalagi IAIN yang bernaungan islam. Jadi sangat cocok untuk memakmurkan masjid dan melatih mahasiswa dalam bermayarakat”. Ungkap Anwar.

    Anwar berpesan agar kegiatan ini tidak berhenti pada agenda KPM saja, melainkan dapat berlanjut seterusnya. “ Mahasiswa ini kan satu desa jadi bisa lebih saling mengenal, membangun solidaritas. Saya harap bersih masjid ini tidak hanya sampai pada agenda KPM saja tetapi bisa berlanjut setelah KPM-DR selesai juga”. tambahnya.

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done