Dhani Adhi Wijaya : Dari Penjual Pulsa Hingga Pengusaha Tas Muda - EJAPADMA

27 Juni 2020

Dhani Adhi Wijaya : Dari Penjual Pulsa Hingga Pengusaha Tas Muda




Oleh : Siti Umi Nafi’ah

 Awalnya hanya 6 pekerja. Kini ia memiliki 32 pekerja yang tersebar di tiga desa.

        Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita kehilangan semangat. Begitulah presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln berkata. Pepatah tersebut seolah mengingatkan kita untuk bangkit dari kegagalan hidup yang terus mendera. Seperti yang dialami oleh Dhani Adhi Wijaya, pengusaha muda asal dusun Gempol, desa Ngampel, Kecamatan Balong, Ponorogo. Setelah bertahun-tahun mengalami kegagalan, kini ia sukses mendirikan CV. Tas Rakyat Indonesia didesanya.

     Perjalanan karirnya dimulai saat berusia 14 tahun. Tahun 2008 saat masih kelas dua di SMPN 1 Jetis ia memulai usaha sebagai penjual pulsa operator. Kala itu penjual pulsa antar operator di Ponorogo masih minim sehingga bisnis pulsanya berkembang pesat, juga dari segi keuntungan yang cukup bagus. Usahanya berjalan cukup lancar sampai suatu hari ia mulai tidak mampu menata keuangannya. Dhani hanyalah seorang remaja labil yang sering bermain dan nongkrong bersama teman-temannya. Tanpa disadari, uang hasil ia berbisnis pulsa lama-kelamaan habis akibat perilaku konsumtifnya. Sejak saat itu ia bangkrut dan berhenti berbisnis pulsa.

     Tahun 2011 Dhani  mencoba hal baru. Setelah berbisnis pulsa gagal, ia nekad bekerja. Sembari sekolah di  SMA Muhammadiyah Ponorogo ia mulai bekerja di travel kakaknya sebagai operator travel. Tidak hanya sampai situ, ia mulai mencari celah untuk belajar sistem travel melalui pekerjaannya.

    Jiwa berwirausaha Dhani mulai bangkit kembali ketika mengikuti Multilevel Marketing. Dhani remaja tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyerap ilmu. Dalam mengikuti kegiatan tersebut ia belajar banyak tentang cara closing, mendekatkan diri dengan orang banyak hingga public speaking. Ia sudah berhasil menjadi salah satu peserta terbaik dengan tingkat prestasi yang cukup tinggi. Setelah berjalan sekitar tiga bulan ia keluar dari Multilevel karena ada suatu masalah yang tak dapat dihindari. Tidak berpuas diri disitu, Dhani juga sering mengikuti seminar entrepreneur yang kembali membangkitkan jiwa berwirausahanya. 

     Tahun 2012 Dhani kembali memulai usaha baru di bidang makanan. Ia mengaku terinspirasi dari Film Thailand The Billionare. Usahanya diberi lebel “Cam – Cam “, makanan sejenis cimol yang dicampur daging sapi dan ayam. Dikemas modern dengan berbagai rasa salah satunya balado. Setiap hari “ Cam - cam” ia titipkan ke Koperasi siswa yang ada disekolahnya. Masih menggunakan seragam sekolah ia kembali menjajakan dagangannya ke toko-toko kecil sampai ke rental PS hingga Warnet. Tidak mudah menjadi siswa sekaligus berjualan disekolahnya. Tidak sedikit orang yang berpikiran buruk tentangnya sampai kata-kata tidak pantas terdengar sampai ke telinganya. “Tidak mudah bagi saya mbak, berjualan itu banyak orang-orang yang mencemohnya dan tidak percaya akan mimpi saya”. Setelah berjalan beberapa bulan usaha tersebut kembali bangkrut. Lagi-lagi, ia tidak mampu menata manajemen keungannya dengan baik. 

     Ditahun yang sama ia mengikuti bisnis kaos bersama temannya. Di Multilevel ia melihat peluang besar di bidang produksi kaos. Dhani rela menjual Handhponenya demi mengikut bisnis tersebut. Akan tetapi, nasib buruk menimpanya, “ saya rela jual Hp Blackberry seharga 1,5 juta untuk tanam modal, ternyata malah dibawa kabur”. Melalui berbagai kegagalan membuatnya sadar bahwa ia harus lebih hati-hati dan bijak menata keuangan.“ semakin lama melalui berbagai pengalaman saya sadar, mana yang harus diperbaiki untuk mengelola keuangan dan manajemen yang baik”. 

     Lulus SMA Dhani kembali bekerja, kali ini ia menjajal kemampuannya dibidang driver travel. Selama 1,5 tahun pekerjaan tersebut ia tekuni penuh semangat. Tahun 2014 bungsu dari dua bersaudara tersebut masuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Kala itu orang tuanya menentang karena anak keduanya ini ingin masuk jurusan Manajemen. Bagi orang tuanya jurusan pendidikan dan kesehatanlah yang berpeluang besar mendapatkan pekerjaan. Namun Dhani tetap gigih dengan pendiriannya. Ia meyakinkan orang tuanya bahwa ia mantap dengan jurusan tersebut dan berjanji akan bersungguh-sungguh. 

    Janji tersebut tidak hanya sebatas ucapan. Semester tiga Dhani mulai  mendirikan usaha tas rakyat atau tas anyaman berlebel LIIZHA. Awalnya ia mengembangkan ide tas rakyat melalui tahap ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Dhani melakukan riset pada suatu mall, ia mengamati sebuah kantong kresek yang biasanya digunakan untuk mewadahi hasil belanjaan. “ kresek di mall itu saya amati, ukurannya berapa dimensinya berapa. Nanti bisa saya terapkan untuk ukuran tas saya”. Sedangkan tas LIIZHA ide yang dikembangkan lebih terkonsep lagi. Dari riset pasar, riset produk hingga riset marketing. Jadi, ilmu yang didapatkan selama kuliah dapat diterapkan dalam hal ini. Dari segi motif pun ia juga sering observasi ke pusat perbelanjaan untuk menemukan motif yang cocok. Setelah menimbang dan mengamati barulah ia memutuskan bahwa motif sederhana dan elegan adalah yang sering digunakan kaum perempuan.
      
foto: @tas.rakyat

     Saat berbincang santai dirumahnya Dhani bercerita salah satu faktor utama mendirikan usaha ini membuatnya tergelitik. Sambil mengingat kembali dan sesekali tertawa ia mengisahkan bahwa patah hati membuatnya bangkit dari keterpurukan. “ Lucu ya mbak, dulu saya suka sama salah satu perempuan terus patah hati. Nah mulai saat itu saya bangkit tidak mau berlarut dalam kesedihan. Saya harus membuktikan saya bisa sukses tanpa dia.” Ucapnya mengingat kejadian enam tahun silam. 

    Selain faktor patah hati, dari segi ekonomi keluarganya masih terbilang sederhana. Ibunya berjualan bahan pangan di pasar sedangkan bapaknya seorang petani. Karena ibunya sempat sakit yang mengakibatkan beliau harus berhenti berjualan, di sisi lain hasil dari bertani bapaknya tidak menentu. Ia memutar otak bagaimana bisa menghidupi keluarganya juga kehidupannya sebagai seorang mahasiswa.

     Hasil dari ia bekerja menjadi driver travel ia kumpulkan untuk membeli iphone. Kemudian iphone tersebut rela ia jual untuk modal mendirikan usaha tas ini. Awalnya ia memilih usaha tas anyaman karena menurutnya memiliki potensi besar kedepannya masyarakat akan beralih dari kantong plastik ke tas serbaguna. Jadi ia memantapkan diri untuk mendirikan usaha tas anyaman di desanya.

     Tahun 2015 ia memulai usaha dengan bahan yang masih biasa sehingga hasilnya kurang maksimal. Tahun 2016 ia sudah dapat bahan penyuplai dari Surabaya yang kualitasnya bagus. Mulai tahun tersebut usahanya berkembang pesat. Awalnya ia menjual sendiri secara sales ke berbagai kota. Banyak yang menolaknya sampai suatu hari di Pacitan ada orang yang mau membeli. Walau hanya 10 tas yang terjual ia merasa bangga dan termotivasi untuk membuat inovasi lebih menarik lagi.

   Setelah diambang kesuksesan ia mulai dihantam banyak pesanan. Disitu ia kelabakan karena ia sudah memiliki bahan yang bagus akan tetapi sumber daya manusia sebagai pengrajin sangat minim. Al-hasil ia tidak mampu menerima pesanan tersebut. Awalnya pengrajin hanya 6 orang akan tetapi sekarang sudah berkembang menjadi 32 orang. Pengrajin tersebut tesebar ke tiga desa yakni Muneng, Ngampel dan Jetis. Itupun menurutnya masih kurang jika pesanan semakin banyak.
Foto : @tas.rakyat

     Selain meningkatkan ekonomi usaha ini juga membantu pengurangan sampah plastik. Bahan yang digunakan ialah recyle dari plastik yang diolah menjadi tali strapping band untuk menganyam tas tersebut. Melalui taglinenya “ Diet kantong plastik” Dhani mengajak masyarakat untuk mengurangi sampah plastik yang semakin hari semakin menumpuk. Sampah plastik tentunya sangat merugikan selain sukar diuraikan juga dapat mencemari lingkungan.

    Produk tas anyaman ini terdiri dari dua jenis. Pertama tas rakyat yang ditargetkan untuk ibu-ibu yang tinggal di desa. Kedua, tas LIIZHA yang ditargetkan untuk ibu-ibu muda di daerah perkotaan.  Tas rakyat memiliki empat ukuran yang berbeda yakni : S, M, L, dan XL. Dijual secara grosir dengan harga Rp.11.000- Rp. 18.000.  Sedangkan tas Liizha dibandrol dengan harga Rp. 20.000 –Rp. 30.000 yang dijual secara negoisasi. Khusus tas LIIZHA Dhani menawarkan kualitas bahan yang lebih tebal, motif yang bervariasi hingga lebel dengan tagline “Diet Kanting Plastik” untuk selalu mencintai lingkungan. 

Di Usianya yang ke 26 tahun, pendistribusian tas rakyat miliknya mampu menembus pasar luar kota yakni Madiun, Blitar, Tulungagung hingga Nganjuk. Kabupaten Ponorogo dan empat kota tersebut sudah rutin menjadi langganan distributor. Seminggu sekali pihak agen mengambil secara grosir sebanyak 250 tas atau tergantung pemesanan. CV. Tas Rakyat Indonesia mampu memasok sekitar 1200- 1500 tas setiap bulannya. Selanjutnya Dhani memiliki rencana usaha tas anyaman ini akan ia distribusikan ke seluruh daerah atau kota di Jawa Timur.


    Media Sosial dan E-Commerce menjadi salah satu andalannya dalam taktik marketing. Dalam instagram @Liizhabags.id dan @tas.rakyat para pembeli dapat dengan mudah melihat detail tas anyaman ini tanpa perlu repot repot datang ke tempat produksi. Di Zaman yang semakin modern ini, Dhani terus mengalami rintangan yang tidak mudah. Menurutnya inovasi sangat penting dilakukan mengingat tanpa inovasi maka suatu produk akan sulit berkembang. Membuat inovasi tidak hanya di bidang produksi melainkan di bidang pemasaran juga. “ rintangannya itu kita harus konsisten dan membuat inovasi terus meneurus dibidang produksi, pemasaran dan sebagainya. Tanpa inovasi ya stok hanya disitu aja”.

Kunci keberhasilan bisnis dalam berwirausaha menurut Dhani adalah menguatkan niat, usaha terus menerus dan doa. Sarjana Manajemen tersebut berpesan kepada anak-anak muda yang sedang membangun usaha atau bercita-cita menjadi pengusaha untuk tidak takut gagal. Kegagalan membuatnya lebih kuat dan menjadikannya pengalaman terbaik. “Wirausaha wajib gagal. Kalau belum gagal maka belum merasakan susah. Jangan takut gagal dan harus gagal untuk menjadi yang lebih baik. “ Ucapnya dengan penuh semangat.




Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done