EJAPADMA: Opini
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

29 Januari 2021

Durhaka! Mata Dibutakan, Orang Tua Digugat Karena Harta

 


Selamat datang  di Ejapadma  dalam acara EjaOpini, Gugatan anak kepada orang tua. akhir akhir cukup marak anak menggugat orang tua karena masalah harta. Misalnya kemarin kalau ngak salah di sumatra selatan ada ibu berumur 78 tahun digugat anak-anaknya karena warisan. apalagi kondisinya sudah tidak kuat berdiri dan duduk dengan kursi roda. Tega banget anaknya masih mikir harta bukan kondisi ibunya.

Ini fenomena agak aneh, bukan hanya itu kasusnya. ada juga seorang ibu digugat gara-gara mobil fortuner. seorang ayah juga digugat 3m oleh anaknya karena masalah tanah. Apakah cara kekeluargaan untuk menyelesaikan masalah sudah ngak berguna? 


mestinya mikir lah, harta masih bisa dicari kok. Orang tua sudah kondisi berumur dan perlu dirawat anaknya, apakah kaya gini cara membalasnya? hanya karena warisan mata sudah dibutakan. Orang tua masih ada, kok sudah minta warisan. ini ini parah banget, warisan bisa didapat kalau orang tua sudah tidak ada. orang tua masih hidup sudah minta warisan.


kalau kita bicara tentang norma ya, sedikit masuk ke hukum ni. Tindakan ini tidak sejalan dengan norma yang ditetapkan dalam Undang-undang Perkawinan. dalam UU Perkawinan mewajibkan seorang anak untuk menghormati orang tua serta wajib memelihara/merawat jika anak sudah dewasa berdasarkan Pasal 46 Ayat 1 dan 2.


Harusnya tau lah, punya rasa bahwa orang tua sudah merawat dari kecil. harusnya ada dong rasa kasih sayang. ikatan batin antara orang tua dan anak itu susah diputus, tidak ada namanya mantan anak dan mantan ayah/ibu.  Jika ada permasalahan KDRT yang dilakukan orang tua, lalu menggugatnya itu tidak masalah. Tapi ini, rata-rata orang tuanya sudah berumur dan tidak bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Anak-anaknya pun sudah menikah dan punya penghasilan sendiri.


 saya ambil contoh, kasus warisan yang dialami oleh nenek darmina. yang digugat anaknya karena masalah warisan tanah. Nenek darmina ini tinggal di daerah sumatra selatan yang berusia 78 tahun memiliki 5 anak. 3 anak perempuan menggugatnya karena cucunya bernama Angga menjual tanah untuk biaya pengobatan nenek Darmina. kasus ini sudah beberapa kali disidangkan, mediasi juga dilakukan tapi masih belum ada jalan keluar.


Cuma gara gara tanah dijual untuk mengobati sang ibu, anaknya tidak terima. apa ngak ngeliat kondisi ibunya sudah seperti itu. seharusnya membantu merawat, nenek Darmina hanya dirawat oleh cucunya Angga. Bahkan kalau saya baca di tribunnews nenek Darmina tinggal bersama angga. Anak-anaknya terutama yang menggugat beliau jarang menjenguknya.


bisa dibilang miris sekali ini, mungkin ini namanya malin kundang jaman sekarang. Ayolah pengertian dengan orang tua yang sudah kerja keras menghidupkan anak. di umur yang tua mestinya mereka hidup dengan tenang dan bahagia melihat anak-anaknya sukses. 


Ngak jauh beda yang dialami nenek Darmina, kakek koswara  digugat anaknya 3M karena masalah tanah. Dan tanah itu bakal menjadi warisan yang akan dibagikan nanti kepada anak-anaknya. Apalagi kakek koswara yang memiliki 6 anak, digugat oleh anak kedua dan istrinya karena masalah tanah warisan.


lagi lagi saya ingatkan. ketika orang tua masih hidup, seluruh harta milik orang tua bukan harta warisan. Anak tidak boleh mendapat hak warisan ketika orang tua masih ada. Jika orang tua masih hidup dan memberi tanah, itu namanya hibah/pemberian dari orang tua. 


dalam masalah kakek Koswara ini, tanah yang menjadi konflik adalah milik kakek koswara yang disewa oleh anaknya ke 2 sebagai lahan usaha. Apalagi tanah itu merupakan tanah warisan dari orang tua kakek koswara, sehingga jika kakek koswara ingin menjual tanah itu menjadi haknya karena secara sah miliknya. 


kakek koswara ingin menjual tanah itu karena masih ada ahli waris selain kakek koswara, yakni adik-adiknya. Tentu yang berhak menjadi ahli waris tanah itu adalah kakek koswara dan adik-adiknya karena tanah itu merupakan warisan dari orang tua mereka.  cucu dari orang tua kakek koswara atau anak dari kakek koswara tentu tidak mendapat warisan dari orang tua kakek koswara karena terhalang oleh adik-adiknya kakek koswara. 


intinya harta warisan orang tua kakek koswara hanya bisa diterima dirinya dan adik-adiknya. Sedangkan anak kakek koswara dan anak dari adik-adiknya tidak akan mendapat warisan. Sejatinya warisan itu diberikan dari orang tua kepada anaknya.


Kalau menurut pengacara kakek Koswara, perjanjian sewa dilakukan secara lisan dan tanah tidak hanya milik kakek Koswara. Perjanjian lisan memang secara hukum sah, tetapi jika digugat harus membawa saksi yang melihat perjanjian itu. Tapi kekuatan saksi dalam membuktikan perjanjian tanpa surat/alat bukti akan sulit dilakukan karena keterbatasan dan harus ada dua saksi minimal.


22 November 2020

TNI Ingin Bubarkan FPI, Awas Pemerintah Bisa Kena Getahnya!

tribunnews.com

Aksi penurunan baliho Habib Rizieq yang dilakukan TNI  atas perintah Panglima Kodam Jaya (Pangdam Jaya) Mayjen TNI Dudung Abdurachman Menuai kontroversi. Banyak pihak yang mendukung aksi TNI menurunkan baliho lantaran melanggar ketertiban umum. Banyak juga yang kontra terhadap  penurunan baliho tersebut karena menganggap TNI melampaui tugasnya.


Menurut Wakil Ketua Komisi I dari Fraksi Partai Gerindra Bambang Kristiono tugas  penurunan baliho bukanlah termasuk wewenang TNI melainkan Satpol PP dan meminta agar TNI kembali ke tugas pokoknya. Namun di balik kritikan tersebut, pengamat militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertopat, pihak TNI memiliki kewenangan karena dalam  Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, ada operasi di luar perang yang disebut OMSP (operasi militer selain perang). 


Selain itu, dasar aturan yang membuat pihak TNI ikut turun tangan karena baliho Habib Rizieq melanggar Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Reklame. Sudah Semestinya bahwa  penurunan tersebut sebagai langkah untuk membantu Satpol PP Karena FPI kembali memasang baliho setelah Satpol PP menurunkannya. 


Bahkan Pangdam Jaya sempat mengatakan bahwa  FPI sebaiknya dibubarkan karena menganggap membawa kegaduhan di Indonesia. Kegaduhan yang dimaksud kemungkinan besar adalah peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.  FPI juga tidak terdaftar sebagai ormas di Kemendagri semenjak tahun 2019. 


Sebaiknya pemerintah menanggapi FPI dengan langkah persuasif. Jika TNI mengancam FPI, bisa diartikan bahwa pemerintah memang melakukan hal yang sama.  Pemerintah  tetap harus memberikan perhatian penuh terkait pergerakan FPI dan jangan sampai meremehkannya. Alasannya FPI memiliki banyak sekali simpatisan dan bisa mengumpulkan mereka semua. Jika salah mengambil sikap bisa jadi pihak yang tidak bertanggung jawab membuat isu bahwa pemerintah melakukan diskriminasi terhadap ulama. 





17 September 2020

Kubu Kesehatan vs Kubu Ekonomi: Pemerintah Daerah dan Pusat

Virus corona telah merenggut nyawa 8 ribu warga Indonesia dan kini tengah meruntuhkan ekonomi negeri ini. Pemerintah yang menolak lockdown agar ekonomi tidak rontok, sekarang justru di-lockdown negara lain sekaligus ekonomi juga terancam rontok. Bila mengingat narasi pemerintah beberapa bulan yang lalu, mereka tidak khawatir bahwa virus corona akan mengancam indonesia. 


Komunikasi pemerintah melalui media massa  kepada masyarakat untuk tidak khawatir virus corona masuk ke Indonesia. Ternyata telah menjadi buah simalakama bagi pemerintah. Ledakan kasus yang semakin tinggi membuat pemerintah terlihat gagap mengatasi krisis kesehatan. Terlihat pada awal pandemi pemerintah pusat dan pemprov DKI memiliki komunikasi sangat buruk sehingga terkesan berseberangan. Pemerintah pusat tidak mau kebijakannya didahului oleh pemprov DKI yang akhirnya virus corona terlanjur menyebar. Jika pemerintah mengambil langkah preventif seperti Vietnam mungkin tidak separah ini.


Keanehan cara berkomunikasi pemerintah kembali muncul ketika Jakarta akan melakukan PSBB seperti awal pandemi. Gubernur DKI Jakarta mengungkapkan rencana PSBB ke publik dan berakhir terkena kritikan dari para menteri Jokowi. Airlangga Hartarto bahkan sangat vokal dengan menyalahkan Anies karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok. Padahal itu sangat wajar bahwa IHSG fluktuatif mengingat kondisi ekonomi Indonesia yang kritis dan perubahan arah kebijakan. 


Pada akhirnya, pemerintah daerah dan pusat memperlihatkan saling tolak belakang di hadapan rakyat sendiri. Memunculkan persepsi di masyarakat bahwa pemerintah tidak bisa kompak menghadapi pandemi ini. Seakan-akan muncul kubu kesehatan melawan kubu ekonomi. Kemrosotan ekonomi Indonesia permasalahannya bukan di sistem perekonomian, melainkan pada sektor kesehatan. Melihat data dari Satgas COVID-19 peningkatan kasus positif corona mingguan di Indonesia per 30 Agustus 2020 naik 32,9%. DKI Jakarta menjadi salah satu penyumbang persentase kenaikan nasional dengan 36,9%. Tren kenaikan itu juga berlanjut di awal September.


Wajar bila pemprov DKI menarik rem darurat untuk melaksanakan PSBB lebih diperketat. Masalahnya, Gubernur DKI Jakarta dalam mengumumkan rencana PSBB belum secara penuh berkomunikasi dengan pemerintahan pusat. Akibatnya Gubernur DKI Jakarta misskomunikasi dengan para menteri dan kepala daerah pendukung. Banyak dari mereka menolak rencana PSBB yang tentu akan mengancam ekonomi dan muncul anggapan mereka hanya peduli tentang duit. 


Maka perlu adanya tata kata dari Gubernur DKI jakarta  maupun para menteri agar tidak memunculkan anggapan yang aneh-aneh. Penataan kata diperlukan agar tidak membuat publik kaget perubahan kebijakan yang diumumkan. begitu juga kepada para menteri agar tidak langsung menyalahkan terhadap kebijakan yang dibuat oleh kepala daerah. Padahal pemerintah daerah dan pusat memiliki arah yang sama dalam kebijakan melawan virus corona, sehingga tidak ada kubu kesehatan melawan kubu ekonomi. Semuanya memang harus ditelaah secara mendalam setiap pernyataan yang keluar untuk menghindari tuduhan pernyataan yang memiliki unsur politis. Tanpa tata kata dan komunikasi yang baik maka pemerintah tidak akan bisa menata negara dengan optimal.


14 Juli 2020

Sejenis Jimat? Kalung Antivirus Corona Ramai Diperbincangkan



Dalam kurun waktu seminggu ini kalung antivirus corona ramai diperbincangkan baik di dunia maya maupun dunia nyata. Pasalnya dari kabar terbaru memberitakan bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) akan memproduksi secara masal kalung tersebut di masyarakat luas. Belum ada riset yang pasti tentang keakuratan kalung tersebut menangkal virus corona.

Dilansir dari berita Suara Indonesia menurut Wakil Ketua Umum DPN Bintang Muda Indonesia (BMI), Sukri Umar melayangkan kritik tajam kepada Kementerian Pertanian (Kementan) terkait kalung antivirus corona yang akan segera diproduksi.

Menurut Sukri sebaiknya Kementan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat seperti memberikan panduan bertani dan berternak atau memberikan panduan pengelolaan daging agar tak jadi medium penularan virus. "Kalung itu, obat atau jimat. Kementan dalam wabah Covid-19 membuat panduan bertani dan beternak yang aman, pengelolaan daging dan sebagainya agar tidak jadi hotspot penularan, subsidi yang terdampak," katanya.

Karena semakin tak terkendalinya peningkatan korban wabah Covid-19 berbagai pihak berlomba-lomba menyiptakan sesuatu yang dapat menangkal virus tersebut. Seperti Kementerian Pertanian yang berusaha membuat kalung antivirus corona. Temuan kalung ini merupakan hasil pengembangan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan). Kalung berbahan eucalyptus atau kerap disebut juga pohon kayu putih diyakini mampu menangkal virus mematikan asal Wuhan.

Dikatakannya, minyak eucalyptus sudah turun menurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah. Sudah puluhan tahun lalu orang mengenal eucalyptus atau minyak kayu putih, meskipun berbeda sebenarnya, tetapi masih satu famili hanya beda genus di taksonomi. Bahkan Kementan sendiri menggandeng Eagle Indo Prama untuk pengembangan dan produksinya.

Sebenarnya bukan Indonesia saja yang menciptakan kalung sejenis ini,  Jepang terlebih dahulu berinovasi membuat kalung tersebut dengan nama “Shut Out”. Kalung tersebut dilarang beredar di wilayah Asia dikarenakan kandungan dasarnya adalah klorin. Dengan kadar rendah, klorin dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, menimbulkan batuk, nyeri tenggorokan, iritasi kulit dan mata, serta gatal-gatal.

Banyak cerita dalam menghadapi wabah Covid-19 ditahun 2020, salah satunya tentang kalung antivirus corona yang selalu berinovasi disetiap elemennya. Tetapi pastinya setiap pihak mengharapkan hasil terbaik untuk ke depannya.



Hak cipta gambar : economy.okezone.com

Penulis: Rafingatul Wahidah


06 Juli 2020

Dari Jendela SMP, Penonton yang Negatif thinking atau SinemArt yang Cuma Ngandelin Strategi Marketing ?



foto : @sctv

Dari Jendela SMP sinetron terbaru yang tayang di SCTV menuai pro dan kontra. Sinetron yang diadaptasi dari novel laris ini tayang perdana pada 29 Juni 2020. Seperti biasa sinetron televisi hadir di jam prime time setiap hari. SinemArt sebagai production house sukses membuat netizen garuk-garuk kepala. Sinetron ini mengingatkan saya dengan Film Dua Garis Biru yang sukses menarik perhatian penonton dan meraih berbagai penghargaan nasional.

Awalnya melalui teaser yang ditampilkan di televisi terputar kisah manis anak SMP yang selalu bersama. Bersepeda ria dan menikmati masa sekolah seperti siswa pada umumnya. Akan tetapi bagi yang belum membaca buku Dari jendela SMP karya Mira W. pastinya terkejut. Pasalnya, sinetron ini ternyata mengangkat tema hamil di luar nikah yang terjadi pada sepasang kekasih yang masih SMP. Cukup berani bukan SCTV mengangkat isu sensitif ini melalui kanal TV ?

Joko adalah siswa SMP dari keluarga miskin. Ibunya seorang pembantu yang bekerja di rumah Prapto sang pemilik yayasan di sekolah Nusa Bangsa, sekolah elit dan terpandang. Joko yang pintar bisa masuk di sekolah tersebut lantaran ia mendapat beasiswa. Sikap Joko yang dingin dan cuek membuat perempuan menganggapnya aneh, padahal ia hanya ingin fokus belajar. Sampai suatu hari Joko bertemu Wulan, teman sekelasnya. Kehidupan Wulan berbanding terbalik dari Joko. Selain cantik dan berprestasi, Wulan dibesarkan dari keluarga kaya raya. Dengan berbagai kejadian tak terduga mereka selalu dipertemukan. Melerai pertengkaran, terlambat sekolah sampai dihukum mereka hadapi bersama. Seiring berjalan waktu mereka semakin dekat hingga muncul benih-benih kasmaran diantara mereka.

   Baru berjalan satu episode, penonton dibuat geleng-geleng kepala dengan berbagai kejadian yang aneh. Persis sepenggal lirik lagu soundtrack sinetron ini “ Sungguh aneh tapi nyata, tak kan terlupa”. Wulan si pemeran utama tiba-tiba hamil, saat berteduh di rumah tua bersama Joko, mereka kedinginan lalu menyalakan api dirumah itu. Setelah hujan reda ia kembali kerumahnya dengan wajah pucat dan menyesali perbuatannya. Padahal tidak ada adegan bersentuhan dengan Joko, bagaimana bisa hamil ? atau jangan-jangan memang terjadi sesuatu di rumah tua itu tanpa memperlihatkan adegan di layar kaca ?. Ya kalau sesuatu itu ditayangkan di TV siap-siap disemprit KPI (Komisi Penyiaran Televisi) deh.. Oh iya baru berjalan beberapa episode ternyata pihak KPI sudah menerima banyak aduan tentang sinetron ini. Sejumlah warganet menilai, cerita ini terlalu sensitif dan tidak pantas diangkat ke layar kaca. 

Diakhir cerita episode satu Wulan dan Joko membeli test pack melalui aplikasi ojek online. Setelah mencoba mengechek, tast pack tersebut menampilkan dua garis merah. Al-hasil mereka bingung, anak SMP yang penuh kepolosan hanya bisa menangis dan melamun.  Tidak menyangka nasib naas menimpa mereka. Suasana seperti ini semakin memperkeruh keadaan bahkan mengaduk-aduk emosi penonton. Drama apalagi yang disuguhkan?. Berselang beberapa hari dengan segala konflik yang terjadi Wulan ternyata tidak hamil. Test pack yang digunakan kadaluwarsa, sehingga hasil tidak akurat. Bukankah suatu skenario yang menakjubkan sekaligus menjengkelkan bukan?. 

Berbagai adegan seperti perkelahian, berbohong dari orang tua, kabur dari rumah, menikah diam-diam membuat kesan negatif dimata penonton. Berbagai adegan menegangkan mencemaskan hati warganet, mereka khawatir jika hal tersebut mudah ditiru remaja. Mengingat psikologi remaja yang labil dan emosional.

Terlepas dari itu semua, pesan dari suatu karya pasti ada, tergantung bagaimana orang pandai-pandai menyerap hal positifnya. Mungkin, Dari jendela SMP bermaksud memberikan nasihat bahwa sex education yang perlu dipelajari sejak dini. Kalau sampai hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, musibah besar akan mendera. Keluarga akan malu dan tersakiti, persahabatan akan pudar, respon menakutkan dari tetangga menghantui bahkan diri sendiri akan frustasi memikirkan masa depan yang berantakan. 

Sinetron Dari Jendela SMP kini cukup meraih perhatian publik. Terbukti dengan cuplikan adegan yang diunggah SCTV menduduki sejumlah tranding di Youtube. Di sejumlah media sosial postingan tentang sinetron ini juga mendapat bejibun komentar. Sampai-sampai banyak akun joke membuat meme antara Wulan dan Joko. Rating Dari Jendela SMP pun terbilang sangat bagus padahal sinetron ini masih baru. Dilansir dari @dunia_tv tanggal 2 Juli 2020 Sinetron dari Jendela SMP menduduki posisi 3 besar dengan raihan TVR 4.4 dan Share 19.1 %. Selain bintang muda yang menwan, tema sensitif yang berbeda dengan sinetron remaja pada umumnya merupakan salah satu strategi marketing yang bisa dibilang apik.

  So, kamu mau jadi penonton yang  bagaimana ?. menilai sinetron dari luarnya tanpa menganalisis akar permasalahan atau penonton yang cermat dalam menangkap pesan positif suatu karya ?.

24 Juni 2020

Belajar Untuk Menjadi Pelajar Bermartabat, Berdikari, dan Berkarakter




Belajar merupakan hal yang harus dilakukan semua orang, entah itu belajar di sekolahan formal maupun nonformal. Di sekolahan di ajari mata pelajaran yang belum ataupun pernah di ajarkan. Pembelajaran menjadi salah satu fasilitas yang dapat berpengaruh besar dalam membentuk sumber energi manusia bermutu. Dengan adanya pembelajaran ini dapat membentuk pelajar yang berkarakter. Walaupun tidak semua pelajar mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Di dalam pembukaan UUD 1945 tercantum bahwa tujuan nasional pembelajaran adalah mencerdaskan kehidupan bangsa yang pada hakikatnya untuk menopang kesejahteraan rakyat. Di tinjau dari realita kehidupan di Indonesia sekarang, masih belum bisa dikatakan memenuhi kriteria sejahtera. Belum bangkitnya pembelajaran Indonesia dari keterpurukan sejatinya memunculkan suatu permasalahan besar. Lalu bagaimana nasib negeri ini nanti?

Keadaan para pelajar Indonesia ini masih sangat jauh dari harapan di kancah internasional, karena masih jarang menapat kesempatan untuk itu. Carut marutnya sistem pemerintahan di Indonesia membuat saya merasa prihatin, padahal orang – orang yang berada di dalam jabatan pemerintahan merupakan orang – orang yang terpilih dan juga berpendidikan tinggi, namun bagaimana keadaan sekarang tidak menggambarkan kecerdasan yang hakiki. Ada banyak para pejabat yang jujur dan bermartabat, berdikari dan berkarakter namun tidak bisa di pungkiri bahwa Para koruptor yang dikatakan cerdas itu juga pernah berpendidikan tinggi, namun apakah yang terjadi di negeri ini? Cerdas bukan satu – satu jalan mencari kekayaan, namun di balik itu harus ada yang namanya hati nurani. Di Indonesia sangat mejunjung tinggi nilai luhur seperti sopan santun, etika, dan kejujuran.
Itulah sebabnya pelajar di Indonesia harus di sadarkan dan di ajarkan nilai luhur, supaya tidak menjadi penerus koruptor.

22 Juni 2020

Lagi lagi Aplikasi tik tok meracuni pengguna media sosial

LAGI LAGI, 
APLIKASI TIK TOK MERACUNI PENGGUNA MEDIA SOSIAL
                       Oleh :Anistia angga susanti


Masyarakat Indonesia belakangan ini pasti tidak asing lagi dengan sebuah  aplikasi bernama Tik Tok. Aplikasi ini sendiri sudah di download lebih dari 1,5 miliar kali, mengalahkan salah satu platform media sosial populer seperti Instagram dan Twitter. Pada era dimana attention span masyarakat yang tidak lebih dari 4 detik, menjadikan Tik Tok sebagai sebuah aplikasi yang viral,  konten konten dari Tik Tok aplikasi lebih mengarah dan fokus untuk audiens mereka, karena yang membuat konten adalah user. Tik Tok juga menggunakan hashtag sebagai cara untuk menemukan konten yang anda inginkan sama halnya dengan Instagram. Aplikasi ini dibuat pada tahun 2017 dan kembali viral ditahun 2020. Aplikasi Tik Tok ini banyak digunakan dan meracuni para penguna media sosial di segala kalangan baik tua maupun muda, bahkan juga dikalangan anak anak pun sangat di gandrunginya itu juga tidak hanya masyarakat biasa yang tinggal di kota bahkan di semua penjuru pengguna media sosial mengunakan aplikasi Tik Tok ini sebagai sarana hiburan terpopuler di Indonesia dan juga bahkan menjadi trend sarana pemasaran yang efektif. Banyak juga para artis-artis yang menggunakan aplikasi ini sebagai media agar lebih dikenal publik. 
Saat ini Tik Tok semakin booming di Indonesia dan bahkan di Luar negri juga sanggat di gandrunggi para artis dan msyarakat , banyak sekali pengguna Tik Tok yang mengunggah karya ciptanya ke sosial media sehingga membuat banyak pengguna smartphone yang lain juga tertarik untuk menirunya bukan hanya di Indonesia tetapi juga di luar Negri, banyak juga yang menggunakan Aplikasi Tik Tok ini, Artis-Artis Luar Negeri  dan Boy band korea juga banyak sekali yang mengunakan Aplikasi ini sebagai media kepopuleranitas terus eksis dan memiliki banyak pengemar atas kekreatifitasanya juga bisa ditiru oleh masyarakat luas.
      Dengan adanya imbauan pemerintah untuk beraktivitas di rumah saja akibat wabah covid-19, ini tentunya membuat beberapa masyarakat bosan. Selain sebagai hiburan Tik Tok juga dapat digunakan sebagai alat penyampaian pesan, seperti karya-karya yang telah diunggah beberapa pengguna Tik Tok untuk sering mencuci tangan dan menjaga kebersihan agar wabah Covid-19 segera berakhir. Kebanyakan pengguna Tik Tok yang awalnya hanya iseng, namun menjadi ketagihan untuk terus membuat karya video setelah ada tantangan yang keren-keren didalamnya. 
     Pengguna Aplikasi ini tidak digunakan pada saat santai atau bosan dengan aktivitas sehari hari tapi malah pada saat aktivitas sehari hari di buat kreativitas Tik Tok. Seperti halnya pada saat masak di dapur, bersih bersih rumah dan bahkan pada saat mengasuh anak. 
     Salah satunya adalah Resa Fentin Hanifa, Pelajar MAN 1 Ponorogo. Dia merasa tertarik untuk berkreasi dengan aplikasi Tik Tok karena ingin mengisi waktu luangnya saat harus di rumah saja.
“Saya sangat suka sekali membuat video di Tik Tok karena aplikasi ini membuat saja berimajinasi dan membuat kreativitas baru untuk mengisi kebosanan saya saat dirumah saja dan menjadi hiburan saya sehari hari semenjak adanya peraturan dari pemerintah,” Ujarnya.

20 Juni 2020

Krisis Demokrasi Akibat Buzzer Terlalu Fanatik dengan Jokowi



Sumber: kaltimtoday.com
   
Istilah buzzer memang sudah lama terdengar di telinga kita. Mereka adalah sekelompok orang bergerak dengan motif tertentu. Menurut Rocky Gerung,  buzzer terdiri dari berbagai macam latar belakang, mulai dari mantan wartawan, mantan aktivis, hingga dosen. Dulu buzzerhanya untuk strategi komunikasi pemasaran tetapi sekarang lebih terkenal digunakan sebagai alat kampanye politik. Mereka sangat gencar berkampanye di media sosial sehingga bisa menjangkau banyak orang. 

Buzzer pertama kali digunakan sebagai strategi kampanye politik di Pilgup DKI Jakarta. Tim Jokowi-Ahok gencar berkampanye lewat media sosial bahkan ada juga yang sukarela menyuarakan calon ini. Kebanyakan mereka tergerak dengan sendirinya karena melihat tokoh ini pro perubahan. Selain itu, Jokowi yang terlihat ramah dengan usia muda membuat warganet kagum melihat sikapnya.

Mulai saat itu, loyalitas buzzer Jokowi sangat kuat hingga berhasil mengantarnya duduk di kursi presiden dua periode. Para buzzermemang sangat menguntungkan, tetapi terlalu loyal terhadap Jokowi membuat mereka sangat fanatik. Siapapun yang mengkritik Jokowi, mereka akan maju di garis depan membela sekaligus menyerang balik.
Mereka tidak hanya membela Jokowi, orang terdekatnya juga akan dibela bila dikritik. Para buzzer juga tidak akan segan-segan melaporkan pengkritik ke polisi dan paling sering menggunakan ancaman pencemaran nama baik ataupun ujaran kebencian. Sudah banyak yang mengkritik keras Jokowi maupun pemerintah, beberapa dari mereka berhasil dijebloskan ke penjara.

Seperti halnya Rocky Gerung yang terkenal keras mengkritik pemerintah dan Rizal Ramli yang masih gencar mengomentari keuangan Indonesia. Mereka telah menerima serangan dari buzzer bahkan pernah dilaporkan ke kepolisian. Namun mereka masih kokoh berdiri karena mendapat dukungan dari warganet untuk terus mengkritisi pemerintah.

Fenomena ini akan terus terjadi sebab warganet sangat ketar-ketir saat menyampaikan kritik. Menurut YLBHI, demokrasi Indonesia di era Presiden Joko Widodo terancam. Hal ini terkait dengan makin memburuknya kebebasan sipil di Indonesia dalam konteks kebebasan berpendapat dan berkumpul. Ia mencontohkan sejumlah pelarangan untuk berkumpul atau berdemonstrasi, pembubaran paksa, pembatasan organisasi, penghalangan informasi, dan intimidasi

Sudah banyak kritikan melalui media sosial yang berakhir diintimidasi bahkan hingga dilaporkan ke polisi. Seperti penangkapan seorang mahasiswa Universitas Muhammmadiyah Surakarta, Mohammad Hisbun Payu yang dilaporkan dengan tuduhan ujaran kebencian setelah mengkritik kebijakan Jokowi. Pada akhirnya hanya beberapa tokoh yang bisa menyampaikan kritikan tajam karena mereka bisa melawan buzzer di ruang hukum sekalipun.

Sangat miris melihat demokrasi saat ini yang kurang memberikan kebebasan berpendapat. Bayang-bayang buzzer membuat kebebasan itu sirna dan pemerintah mendiamkan seakan-akan mengamini fenomena ini terus terjadi. Walaupun beberapa kali pemerintah menepis menggunakan buzzer untuk menyerang balik pengkritik, setidaknya pemerintah memberikan langkah konkret kepada buzzer yang terlanjur fanatik terhadap Jokowi. 

Belum lama ini terjadi penyerangan kepada komika Bintang Emon di media sosial setelah videonya viral mengkritik hukuman pelaku penyiraman Novel Bazwedan. 
Bintang Emon mengkritik Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjatuhkan tuntutan  hukuman  satu tahun penjara karena terdakwa  tidak sengaja menyiram mengenai mata. 

Dikutip dari kompas.com (18/6/2020), Setelah video itu viral, Bintang Emon mengaku ada yang mencoba masuk ke akun email pekerjaannya. Akun email milik kakak dan manajernya juga dicoba diretas. Selain itu, akun-akun anonim di media sosial kemudian juga menyerangnya. Ia bahkan dituduh sebagai pemakai narkoba. 

Kritikannya memang mengarah kepada JPU tetapi secara tidak langsung juga mengenai pemerintah. Tentu dengan alasan tidak sengaja mengenai mata hanya dihukum satu tahun penjara maka terlihat keadilan hanya sebatas ucapan. Wajar bila muncul kritikan kepada pemerintah yang menganggap tidak serius menangani ini, padahal terdakwa sudah jelas melakukan perencanaan untuk melukai Novel Bazwedan dengan menyiapkan air keras. 

Harapannya pemerintah harus serius menangani fanatisme yang berlebihan ini. Para buzzer tidak hanya melukai kebebasan berpendapat tetapi juga keadilan yang seolah-olah berat sebelah. Bahkan Rizal Ramli mengatakan bahwa para buzzer politik itu telah menghadirkan ilusi, mempabrikasi kebohongan demi kebohongan, memecah belah anak bangsa, dan akhirnya hanya akan merusak pondasi demokrasi.

Pemerintah melalui Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko, pernah memberikan himbauan untuk para buzzer agar tidak destruktif mendukung Jokowi. Akan tetapi itu saja tidak cukup, Jokowi sendiri harus memberikan himbauan dan pembinaan untuk mengatasi buzzer yang tidak terkendali. Ini akan menjadi pembuktian bahwa pemerintah memang serius menginginkan para buzzer tidak bersikap destruktif dan tetap menjunjung tinggi demokrasi.


Penulis: Aziz Setya Nurrohman

Kritik Dibatasi Komikapun Beraksi





“Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara” begitulah salah satu dari trilogi yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma penulis legendaris sekaligus sebagai budayawan. Seno dan sastrawan lainnya menggunakan karya sastra sebagai media perlawanan dalam menghadapi rezim penindasan. Begitu juga dengan jurnalis menggunakan pers sebagai media penyeru fakta dan kebenaran. Tentu saja pers dan buku sastra dapat dibredel serta dibungkam, namun kebenaran dan kesusastraan menyatu bersama udara tidak tergugat dan tidak tertahankan.
            Setelah berakhirnya rezim orba hingga kini memasuki fase reformasi tidak hanya jurnalis dan sastrawan saja yang dapat merasakan angin kebebasan dari tekanan politik elit penguasa. Semua orang juga dapat merasakan dan diberikan hak kebebasan untuk berekspresi dan mengutarakan pendapatnya dihadapan publik. Hal tersebut telah dijamin dalam UUD kebebasan berpendapat pasal 28 E ayat 3.
Semakin bebas hak yang diberikan semakin bebas pula pembungkaman yang dilakukan begitu kiranya yang terjadi. Hal ini terbukti dengan disahkannya RUU KUHP, dimana dalam rancangan undang-undang tersebut terdapat banyak pasal karet yang dapat menjerat dan merugikan masyarakat itu sendiri. Bersamaan disahkannya RUU KUHP secara tidak langsung juga telah diresmikan dan diterapkannya pemerintahan yang anti kritik.
            Namun disini saya tidak akan membahas mengenai permasalahan RUU KUHP yang tidak ada habisnya. Melainkan pembahasan mengenai media perlawanan dalam menyampaikan aspirasi dan kritik. Selain pers dan sastra terdapat komedi yang dapat digunakan sebagai media alternatif dalam menyuarakan kritik. Kritik yang dikemas dengan komedi akan menciptakan sesuatu yang fresh dan santai. Serta dapat dinikmati khalayak sebagai bentuk humor yang membuat gelak tawa.
            Kritik komedi sudah digunakan sejak rezim soeharto, seperti Warkop DKI yang menggunakan komedi dalam mengkritik pemerintah yang berkuasa. Pada saat ini banyak komika yang mengikuti jejak perlawanan pelawak senior dalam melakukan kritik sosial. Salah satu komika tersebut adalah Gusti Muhammad Abdurahman Bintang Mahaputra atau biasa disapa Bintang Emon.
Sudah banyak kritik komedi yang disampaikan Bintang Emon dalam akun media Sosialnya. Namun terdapat salah satu guyonan yang menghebohkan jagat dunia maya bahkan sempat menjadi trending topik di twetter. Yaitu unggahan video Bintang Emon yang berisi kritikan terhadap tuntutan satu tahun penjara terhadap Rony Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette, anggota polri yang menyiram penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dengan air keras pada April 2019 lalu. Proses penyiramanpun dilakukan secara jenaka, menurut jaksa atas dasar ketidak sengajaanlah hal tersebut dilakukan.
            Tidak kalah jenaka pula Bintang Emon menanggapi dan membawakan kritikan dalam video unggahannya. Seolah-olah komika itu tidak kehabisan akal untuk menertawakan lelucon yang terjadi di Negeri ini. Bagaimana tidak lucu tuntutan satu tahun yang diberikan jaksa tidak sebanding dengan akibat yang harus ditanggung Novel Baswedan pasca terjadinya penyeragan.
Penyiraman air keras terhadap Novel mengakibatkan kebutaan permanen pada mata bagian kiri dan kerusaka mata sebelah kanan sehingga Novel Baswedan tidak dapat melihat secara sempurna. Terjadinya ketidak adilan hukum terhadap kasus yang dialami penyidik KPK tersebut membuat Bintang resah lalu menyuarakan keresahannya di akun instagram pribadinya.
Apa yang dilakukan Bintang Emon adalah sebagai bentuk kritik sosial yang diutarakan sebagai warga Negara melihat adanya ketidak adilan hukum yang terjadi di Negeri ini. Juga mengenai mirisnya proses hukum dalam penanganan kasus Novel yang terkesan dibuat lelucon dalam ruang persidangan. Tidak ada penanganan hukum secara tegas dan jelas dalam kasus yang terjadi. Maka tidak menutup kemungkinan para pelaku akan jera dan kasus serupa akan terjadi dan berakhir dengan lelucon yang sama.
Namanya kritik mau dulu atau pun sekarang tetaplah akan dibungkam oleh pihak-pihak yang dirasa tersinggung dan dirugikan. Tetapi terdapat perbedaan dalam pembungkaman tersebut. Sewaktu rezim Soeharto pembungkaman dilakukan dengan cara pembredelan media, penculikan, dan pembunuhan. Seperti yang terjadi pada kasus Wiji Tukul yang hingga kini tidak menemui titik terang juga pada kasus buruh pabrik yang bernama Marsinah yang diculik dan ditemukan dalam keadaan tewas.
Kini pembungkaman dilakukan dengan cara mematikan akses internet seperti yang terjadi pada masyarakat Papua. Hingga serangan dari buzzer di media sosial. Serangan buzzer tersebut terjadi pada Bintang Emon. Dilansir dari laman Tirto.id pada rentan pukul 22.45-22.49, tiga akun twitter @LintangHanita (2 followers), @Tiara616xxx (9 followers), dan LiarAngsa (0 followers) mengunggah cuitan tuduhan terhadap Bintang yang menggunakan sabu-sabu.
Untuk menepis tuduhan tersebut Bintang melakukan pemeriksaan urin dan hasilnya negatif dari narkoba. Serangan dan teror terhadap Bintang dilakukan karena Bintang melakukan sesuatu yang benar dalam menyampaikan kegelisahannya. Dikutip dari Tirto.id Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Damar Juniarto mengatakan bahwa benang merah antara teror digital yang menimpa bintang dan teror sejenis yang dialami banyak orang lainnya adalah sebagai bentuk pembungkaman dalam berpendapat.
            Menurut Sardja Popovic dalam Disadur Bebas Dari Blue Print for Revovution pada dasarnya komedi digunakan sebagai media perlawanan yang efektif, karena dapat mengungkapkan kebrobokan kekuasaan dan apabila karenanya ia dicekal, disensor, dibungkam maka terang benderanglah kebrobokan kekuasaan itu. Melihat dari kasus yang dialami Novel Baswedan dan Bintang sudah tergambar dengan jelas bagaimana wajah Indonesia saat ini.

Penulis  : Dwi Aziz Azizah Agustina
Ilustrasi : Malang Corruption Watch
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done